Rombongan mobil sport utility vehicle(SUV) berbagai merek meluncur ke rumah salah satu warga di Dukuh Jenak, RT 001/RW 001, Desa/Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Jumat (2/3/2018).

Mobil menyusuri jalan aspal menanjak, menurun, dan berkelok-kelok hingga jalan cor di kampung menuju rumah berdinding batako putih yang sebagian berselimut semen dan bagian lain belum.

ngargoyoso

Lelaki paruh baya dan perempuan berkerudung berdiri di halaman depan rumah tersebut. Mereka adalah Ngadiyo, 42, dan Samiyem. Mereka mengetahui akan ada tamu berkunjung ke rumah untuk mengantar bantuan buku bacaan untuk anak usia sekolah di taman baca Abunawas.

Ngadiyo merintis taman baca di salah satu bagian rumahnya itu sejak 2008 lalu. Dia membeli buku dari uang hasil bekerja serabutan dan sumbangan donatur. Dia tidak menyoal buku bekas maupun baru. Tujuannya supaya anak-anak di kampungnya gemar membaca.

Selain membuka taman baca, Ngadiyo mengajar membaca dan menulis Alquran di rumah. Anak-anak itulah yang menjadi pelanggan taman baca miliknya.

“Kalau TPA di rumah itu sejak 1995. Setiap Selasa-Minggu. Kalau taman baca 24 jam setiap hari. Ada 51 anak TPA dan rutin baca buku di sini. Dari TK sampai SD, bahkan SMA juga ada. Bukunya saya beli sendiri, bantuan komunitas, teman-teman perantau di Jakarta,” kata Ngadiyo saat berbincang dengan Solopos.com di teras rumah pada Jumat (2/3/2018).

Pagi itu, koleksi buku bacaan Ngadiyo bertambah. Donatur dari Lentera Shadaqah Sabilillah (LSS) menyerahkan beberapa paket buku bacaan anak-anak. Founder LSS, Yurike, menyampaikan taman baca Abunawas layak mendapat bantuan karena memenuhi kriteria.

Selain LSS, SMKN Ngargoyoso, Pejuang Sosial Community (PSC), dan Polres Karanganyar juga memberikan bantuan buku bacaan, iqra, dan lain-lain. Kebahagiaan bapak dua anak itu tidak berhenti sampai di situ.

Kapolres Karanganyar, AKBP Henik Maryanto, mengapresiasi upaya Ngadiyo ikut mencerdaskan anak-anak di kampungnya. Tetapi, Kapolres tiba-tiba menyinggung tentang izin mendirikan taman baca.

Saat itu, raut muka Ngadiyo berubah dari ceria menjadi khawatir. Dua alisnya berkerut, kepalanya tertunduk, dan tatapan mata terpaku pada lantai.

“Pak, ini kan taman baca. Sudah ada izin belum? Kalau belum ada izin bagaimana? Saya datang ke sini sekaligus membawa surat panggilan untuk Bapak,” tutur Kapolres sembari merangkul bahu Ngadiyo.

Beberapa saat kemudian, Kapolres menambahkan, “Panggilannya bukan ke kantor polisi, tetapi ke Tanah Suci!”

Ngadiyo belum berani bergerak. Dia masih menunduk. Kapolres mengeluarkan berkas dari dalam amplop cokelat. Isi berkas itu panggilan umrah ke-17 gratis untuk Ngadiyo, Karanganyar, dari Yayasan Sedekah Umrah Nasional (SUN). Kapolres mengangsurkan kertas itu.

“Allahuakbar. La Haula Wa La Quwwata Illa Billah. Allahuakbar. Ya Allah, Gusti Allah,” ucap Ngadiyo lalu menangis haru sembari sujud syukur.

Selama beberapa saat, Ngadiyo dan istrinya tidak dapat berkata apa-apa. Mereka hanya menangis sembari berangkulan.

“Saya itu hanya lulusan SD, enggak tahu jalannya ke mana [untuk mengurus umrah]. Saya hanya ingin anak-anak pintar. Itu sudah membuat saya bahagia. Allah punya jalan lain. Enggak mimpi umrah. Kalau punya uang mending buat beli buku. Sekarang dapat dua-duanya, buku dan umrah,” ujar Ngadiyo sembari mengusap air mata.

Saat ditanya Solopos.com, Ngadiyo tadinya sempat takut dan khawatir saat Kapolres mengatakan akan memanggilnya ke kantor polisi karena taman baca Abunawas belum berizin. Dia mengaku bingung apabila harus mengurus izin.

“Kalau harus buat izin, dana dari mana. Untuk makan besok pagi saja masih mikir. Sempat makdeg. Rasanya di atas terkejut. Kenapa saya yang seperti ini, kehidupan seperti ini, diminta menghadap ke Tanah Suci,” tutur dia.

Ketua Yayasan SUN, Dwi Purhayati, menuturkan tim sudah mengecek ke rumah dan mengobrol dengan Ngadiyo. Tim menilai Ngadiyo layak mendapatkan bantuan. Yayasan SUN memiliki program 1.000 paket umrah gratis se-Indonesia untuk jamaah dan duafa.

Dwi menyampaikan Ngadiyo tidak akan dipungut biaya sepeser pun untuk berangkat umrah pada April. “Biaya paspor, vaksin meningitis, uang saku sudah disiapkan. Pak Ngadiyo hanya menyiapkan fisik dan iman untuk ke Tanah Suci. Program ini seluruh Indonesia untuk marbot masjid, hafiz Alquran, dan orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Kriteria itu masuk. Dia pekerja Allah yang tulus melayani anak-anak. Semoga bermanfaat,” ungkap Dwi.

Yayasan yang memilki donatur dari seluruh Indonesia itu sudah menyalurkan bantuan umrah gratis kepada 19 orang. Sementara itu, Kapolres Karanganyar, AKBP Henik Maryanto, mengapresiasi semangat Yayasan SUN membantu warga Karanganyar melalui program umrah gratis.

“Mudah-mudahan warga lain banyak yang menyusul. Hari ini atas prakarsa teman-teman PSC, LSS, SUN, dan Polres Karanganyar. Terinspirasi pengabdian tanpa batas, mengesampingkan kebutuhan pribadi asalkan anak-anak sekitar bisa membaca. Itu luar biasa,” tutur Kapolres saat didampingi Kasat Binmas Polres Karanganyar, AKP Suwarsi.

Dia berharap apa yang dilakukan Ngadiyo dapat menginspirasi orang lain demi meningkatkan minat baca anak-anak sejak dini. Ngadiyo membeli buku dari hasil berjualan daun singkong dan daun lainnya di kebun belakang rumah.

Dia mengaku memiliki penghasilan di bawah Rp50.000. Uang itu digunakan membeli kebutuhan sehari-hari dan membeli buku bacaan. Dia juga memelihara kambing untuk biaya anak sulung yang akan masuk SMP.

“Kerja serabutan. Sebagian palawija yang ditanam itu dijual dan dimakan sendiri. Dapat Rp10.000-Rp20.000. Dijual dapat duit untuk makan. Esok golek terus dicekekem entek. Kayak gitu setiap hari. Harapan saya, anak-anak saya mengejar cita-cita setinggi-tingginya tanpa melupakan apa yang dirintis bapaknya [taman baca],” tutur Ngadiyo.

Ngadiyo hendak melengkapi taman baca dengan membuat tempat bermain di samping ruangan untuk taman baca. Dia akan membuat ayunan sehingga anak-anak lebih nyaman membaca sembari bermain ayunan.

Istri Ngadiyo, Samiyem, mengaku ikhlas apabila suaminya berangkat umrah. “Iya, Alhamdulillah,” tutur dia.

Sumber : solopos.com